Babad
 
  Bagian 4
 
  1. PURA LUHUR PUCAK GEGELANG - NUNGNUNG

    1. Lingkungan Lokasi Pura

      Lingkungan alam sekitar Pura berupa perumahaan/ pemukiman penduduk yang di sebelah timurnya masih berupa lahan sawah, namun demikian tidak mengurangi keasrian Pura lebih-lebih lebih-lebih dilatarbelakangi oleh suatu alam bentang pegunungan yang nampak dengan jelas, sehingga menambah indahnya pandangan mata kita. Keberadaan Pura ini sangat terlindung karena posisinya pada desa pakraman, walaupun demikian karang kekeran atau kawasan suci sangat jelas adanya karena Pura Luhur Pucak Gegelang ini dibatasi oleh tembok penyengker dan penampias Pura, sehingga kelestariannya masih utuh dan tetap terjaga yang secara tak langsung mendukung suasana Pura dan fungsinya sebagai tempat peribadatan.
    2. Konsep Penataan

      Keseimbangan alam bhur, bhuwah, swah yang merupakan falsafah Tri Bhuwana, perlu dilestarikan untuk menjaga kawasan suci agar tetap utuh dan sakral. Sesuai dengan tatanan Tri Hitakarana yang meliputi kawasan Pura, lingkungan hunian, lahan usaha tani, wajib dikendalikan dengan suatu pola yang bersumber pada keselarasan yang saling mendukung. Keindahan bentang alam pegunungan bukan tidak mungkin akan mengundang orang-orang untuk mengembangkan usahanya terutama dalam bidang pariwisata, untuk itulah perlu diantisipasi sedini mungkin dampak yang akan ditimbulkan terutama pada kawasan suci dari Pura Luhur Pucak Gegelang - Nungnung.
      Tatanan Tri Mandala berlaku penataan makro, meso dan mikro, di mana lokasi Pura Luhur Pucak Gegelang berkaitan dengan Pura Beji yang jaraknya 0,5 km dari
      Pura, di mana pada saat-piodalan/ pujawali pralingga Ida Bhatara katuran mesuci di Pura Beji yang berlokasi juga disekitar wilayah Desa Nungnung, Pura Beji itu pun sangat perlu sekali mendapat perhatian serius dari kita semua agar keutuhan serta keasriannya dapat terjaga dengan baik dan yang dipandang sangat perlu sekali adalah sarana jalan menuju Pura Beji mengingat pesatnya perkembangan umat dan kesadaran daripada pengemong dan penyiwi untuk ikut serta dalam prosesi upacara yang dilangsungkan. Yang perlu juga dicermati adalah mencegah tumbuh dan berkembangnya bangunan-bangunan yang tak diinginkan yang tidak sesuai dengan hubungan fungsi Pura dengan keberadaan Pura, di mana pencegahan ini perlu disosialisasikan sedini mungkin kepada masyarakat pengemong, mengingat pada Pura-Pura yang ada di Bali, seperti yang kami lihat salah satu contohnya di Pura Kahyangan Jagat Besakih, terdapat tenda-tenda tempat berjualan didepan candi bentar di areal kawasan suci Pura tersebut, jelas ini sangat disayangkan karena mengurangi kesucian dan kesakralan dari suatu kawasan suci dan karena perkembangan jaman, umat yang pedek tangkil dari tahun ke tahun semakin membludak ke Pura Luhur Pucak Gegelang, perlu juga dipikirkan areal parkir dan fasilitas wc, kamar mandi untuk mengantisifasi bau urine yang akan mengganggu kekhusukan para pemedek untuk melakukan persembahyangan. Yang tidak kalah pentingnya di areal Pura adalah menanam tanaman bunga-bungaan terutama tanaman bunga yang mendukung dalam prosesi kegiatan upacara yang sekaligus akan menambah teduhnya kawasan Pura Luhur Pucak Gegelang.
    3. Tapak Mandala

      Penataan sistem kosmis mandala lokal merupakan acuan dasar penataan tapak mandala Pura pada umumnya, di mana pola Tri Mandala dengan strata ruangnya yang meliputi: uttama mandala (jeroan), maddya mandala (jaba tengah), dan nista mandala (jaba sisi), tampak dengan jelas karena dibatasi oleh tembok penyengker.
      Bangunan pemujaan yang terdapat di Pura Luhur Pucak Gegelang - Nungnung meliputi :
      1. Uttama Mandala
        1. Bagian timur menghadap ke barat terdapat palinggih meru tumpang 7, padmasana rong tiga, palinggih prathiwi, bale panggungan, palinggih bebaturan, bale pelik, paruman agung.
        2. Bagian utara menghadap ke selatan terdapat pelinggih meru tumpang 3, paruman alit, dan bale pengaruman.
      2. Maddya Mandala terdapat bale gong, bale dawa/ genah pesanekan
      3. Nista Mandala terdapat palinggih pengapit lawang 2 buah kiri dan kanan, palinggih gedong, paruman alit, bale gong, perantenan (dapur), serta bale kulkul. Antara jaba sisi (Nista mandala) dengan Maddya mandala dibatasi oleh tembok penyengker dan terdapat 2 buah candi bentar bagian utara dan selatan serta di tengah-tengah ke dua candi bentar itu terdapat candi gelung. Dengan adanya dua buah candi bentar ini sirkulasi pemedek pada saat pujawali dapat diatasi untuk menuju ke jeroan atau kembali (mepamit) dari jeroan ke jaba sisi. Pada pengembangan semestinya menjaga suasana keakraban lingkungan baik lingkungan boitik maupun lingkungan abiotik dalam artian pembangunan apa yang diperlukan dan bukan sebaliknya apa yang bisa dibangun. Penataan lingkungan sekitar Pura sangat diperlukan dalam pola pengembangan sebagai penunjang terselenggaranya fungsi Pura, kesakralan Pura, kesucian Pura dalam rangka ritual, sehingga para pemedek merasa nyaman dalam menghaturkan sembah bhaktinya ke hadapan Ida Bhatara yang berstana di Pura Luhur Pucak Gegelang.
    4. Orientasi Prosesi

      Secara umum sebuah Pura di Bali berorientasi pada arah utara (gunung) atau ke arah terbitnya matahari (timur), di mana orientasi prosesi dari Pura Luhur Pucak Gegelang adalah kearah terbitnya matahari (hulu kangin) sehingga bagian baratnya sebagai hulu teben (Nista mandala), sehingga untuk mengikuti tatanan normanorma memasuki Pura ini dari arah teben (dari barat), di mana orientasi prosesi memasuki Pura melalui candi bentar yaitu dari jaba sisi ke jaba tengah. mengingatkan kita pada kepercayaan leluhur bahwa di jaman dahulu kepercayaan terhadap Dewa Gunung sangat tinggi (jika uttama mandala ada di bagian utara) dan demikian juga suatu Pura Uttama mandalanya di bagian timur, karena di Bali pada jaman dahulu, sebelum bernama agama Hindu, masyarakat di jaman itu menyebut agamanya adalah agama Surya. Itulah kiranya dua hal pokok yang dijadikan landasan pendirian suatu Pura berorientasi pada hulu kaja (utara) dan hulu kangin (timur).
    5. Perwujudan Bangunan

      Sebagaimana umumnya pembuatan suatu Pura khususnya di Bali tidak terlepas dari aturan asta bhumi, asta kosala-kosali. Di Pura Luhur Pucak Gegelang ini perwujudan bangunan suci tidak menampakkan nilai kekunaan kecuali palinggih prathiwi (lihat denah Pura) menunjukkan nilai kekunaan, di mana pada palinggih prathiwi itu terdapat patung/ arca Wishnu. Wujud bangunan suci di Pura ini seperti meru tumpang 7, meru tumpang 3, padmasana rong tiga, bebaturan, palinggih prathiwi, paruman agung, paruman alit, pelik sari, panggungan dan sambyangan tapakan, gedong, paruman serta terdapat pula adanya bangunan sekunder seperti bale gong, bale pesanekan dan dapur.
      Yang sangat menarik perhatian penulis adalah palinggih Prathiwi dengan Arca Wishnunya, lalu kenapa palinggih itu disebut palinggih prathiwi, sedangkan Arca yang dilinggihkan disana berupa Arca Wishnu? Hal ini sangatlah wajar dan relevan, lontar Çiwa Purana ada menyebutkan, duking dangu sira Bhatareng Çiwa, anjuti pwa sira mangdadya lingga pan sira Hyang Brahma kalawan Hyang Wishnu padha.
      Pemujaan Sanghyang Ardhanareswari (Purusha pradhana) dalam wujud manifestasi Tuhan dalam bentuk Hyang Brahma dan Wishnu, sehingga yang disebut palinggih Prathiwi dengan Area kekunaan dalam bentuk Wishnu adalah sangat sesuai di Pura ini sebagai pemujaan Bhatara Wishnu yaitu meru tumpang 7 dan pemujaan Bhatara Brahma yaitu meru tumpang 3, jika kita menilik prabhawa Hyang Tri Murti maka Dewa Brahma sebagai Dewa pencipta dan Dewa Wishnu berfungsi sebagai Dewa pemelihara keseimbangan alam ini, sehingga dengan demikian fungsi Tuhan yang berstana di Pura Luhur Pucak Gegelang merupakan salah satu Pura Kahyangan sebagai tempat memohon keseimbangan alam, lebih-lebih keseimbangan lahir bhatin kepada umat Hindu.
    6. Pola Pengembangan

      Tempat Suci umat Hindu disebut dengan Pura, di mana Pura yang masih aktif difungsikan sebagai tempat pemujaan oleh umat Hindu, memang belum bisa dikatagorikan sebagai peninggalan purbakala, karena Pura yang masih aktif difungsikan ini selalu mengalami perubahan, pengembangan serta peningkatan guna memantapkan secara kwalitas sesuai dengan tuntutan dan peradaban umat Hindu dewasa ini. Namun walaupun demikian pengembangan hendaknya tidak meninggalkan tatanan ciri khas yang berpakem pada arsitektur Bali yang berkonsep pada Asta kosala-kosali serta Asta bhumi.
      senangken wisesanira, pan ikang lingga tar kenatonan ikang sor luhur nia, ika matangia Hyang Brahma anjuti atemahan manuk, mwang sira Hyang Wishnu atemahan mangdadya waraha, nduli ikang manuk umiber mesat mareng antariksa, angruruh ikang tungtunging lingga ika, nghing kang warahatumedhune mareng dhasaring prethu dst.
      Artinya kurang lebih sebagai berikut :
      Tersebutlah pada jaman dahulu Ida Bhatara Çiwa, merubah wujudnya menjadi batu lingga yang sangat tinggi tanpa diketahui ujung pangkalnya, beliau Bhatara Çiwa merubah wujudnya itu karena Bhatara Brahma dan Bhatara Wishnu keduanya sama-sama mengaku paling sakti, melihat keberadaan batu lingga itu tanpa ada ujung pangkalnya, sehingga Bhatara Brahma merubah wujudnya menjadi seekor burung dan Bhatara Wishnu juga merubah wujudnya menjadi seekor babi hutan dan burung jelmaan itu terbang setinggi-tingginya mencari Ujung lingga itu, sedangkan babi hutan jelmaan dari Bhatara Wishnu masuk kedalam bhumi untuk mencari pangkal dari batu lingga tersebut dst.


      Dari penggalan kalimat di atas tersirat bahwa Brahma sebagai simbol akasa (purusha) yang mana Dewa Brahma sebagai Dewa api dan seperti diketahui sifat api adalah selalu naik, sedangkan Dewa Wishnu sebagai Dewa air, sifat air selalu turun, sehingga Dewa Wishnu sebagai simbol pradhana (bhumi). Jadi dengan demikian di Pura Luhur Pucak Gegelang merupakan tempat yang tidak kalah pentingnya dalam pola pengembangan suatu Pura adalah menjaga keasrian lingkungan dengan memikirkan secara matang terutama pembangunan baru, karena tanpa konsep yang jelas, akan merusak tatanan identitas dari tempat suci yang kita sakralkan sebagai wahana memuja kebesaran Tuhan/ Ida Sanghyang Widhi Wasa. Kebanyakan Pura-pura yang ada di Bali, di mana uttama mandala (jeroan) merupakan areal paling tinggi yang merupakan kompleks inti dari suatu Pura, letaknya lebih tinggi dari maddya mandala (jaba tengah) dan nista mandala (jaba sisi), pemandangan yang demikian itu sangat enak dipandang yang terbias bagai perwujudan piramida berundak, dengan wujud yang demikian itu Pura tampak kekar/ kokoh, pemandangan ini tampak jelas seperti di Pura Luhur Pucak Gegelang Desa Nungnung.
  1. FUNGSI DAN STATUS PURA
    1. Fungsi Pura

      Berdasarkan fungsinya, Pura di Bali dibagi menjadi tiga bagian yaitu :
      1. Pura yang berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa dengan segala prabhawanya / menifestasinya
      2. Pura yang berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja roh leluhur yang pada masa lalunya memiliki kelebihan seperti Pura Kawitan
      3. Pura yang berfungsi ganda, di samping sebagai tempat memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa juga sebagai tempat memuja roh suci leluhur

      Pembagian tersebut jangan diartikan secara sempit, karena Tuhan bersifat Esa atau satu, beliau diberi nama sesuai dengan fungsinya seperti penyebutan kata Tri Murti yaitu pada saat Tuhan menciptakan dunia ini Tuhan bergelar brahma, dan pada saat Ida Sanghyang Widhi Wasa melakukan prabhawanya untuk memelihara alam ciptaan-Nya beliau bergelar Wishnu dan pada saatnya nanti alam ini dilebur (dipralina) Tuhan bergelar Siwa. Kekuatan beliau yang tiga itu juga terdapat dalam kekawin Sutasoma karangan Empu Tantular seperti berikut kutipannya :

      Sireka drwya jnana tiga huriping bhumi sahana, Bangun palweng wwai tan milu banyu sireng dukha suka len, Guna neka - lit tan lega maseki ngalwadbhuta ternen, Agong tan mopek manjingi ngahetika suksma sumilib
      Artinya kurang lebih sebagai berikut :
      Beliau memiliki tiga kekuatan bhatin yang menjiwai seluruh alam semesta, seakan-akan perahu di air, yang tidak ikut dalam air, beliau itu selalu pada baik buruknya air, sifat beliau beraneka ragam, pada saat kecil beliau tidak longgar, bahkan memenuhi tempat
      yang luas, ketika besar tidak pula tersendat masuk ke tempat yang sempit itu dan tiada tampak/ menggaib


      Dalam Reg Weda : 7-100-1, ada disebutkan :

      Nii marto dayate sanisyan yo wisnawa uruguayaya dasat,
      Pra yah satraca manasa yajata etavantam naryamayivasit.
      Artinya :
      Seseorang yang menyajikan persembahan kepada Dewa Wishnu yang memiliki kecepatan yang sangat dasyat, dan yang melaksanakan yajna melalui pikiran dan menyembah Dewa Wishnu yang maha penolong, segala keinginan yang baik orang tersebut akan terpenuhi dan akan memberikan dhana punia

      Dalam mantra Yajurweda Wishnu adalah Dewa yang paling utama, bahkan disebutkan Dewa Wishnu itu sendirilah yajna, seperti halnya sebagaimana yang tersirat dalam Purana Pura Luhur Pucak Gegelang-Nungnung, disebutkan Dewa Wishnu sebagai goal pemujaan disamping itu juga di Pura ini tempat pemujaan Dewa Brahma, sehingga dengan demikian Pura Luhur Pucak Gegelang merupakan tempat suci memuja kebesaran Tuhan dalam prabhawanya sebagai Dewa Wishnu dan Dewa Brahma, sehingga Pura Luhur Pucak Gegelang merupakan Pura umum.

    2. Status Pura

      Pura Luhur Pucak Gegelang yang berlokasi di Desa Nungnung, jika kita menyimak dan mengkaji isi sastra kuno terutama sastra yang menguraikan tentang keberadaan Pura ini seperti tersebut dalam uraian fungsi Pura bahwa di Pura ini tempat memuja kebesaran Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Wishnu dan Dewa Brahma.
      Penghambat utama dalam penulisan ini tiada lain disebabkan karena sangat langkanya tulisan-tulisan kuno, maupun hasil penelitian ilmiah yang menyangkut keberadaan Pura Luhur Pucak Gegelang, walaupun demikian isi Purana yang telah diketemukan kiranya sudah dapat digunakan sebagai acuan dan landasan untuk mencari status Pura ini. Karena di Pura Luhur Pucak Gegelang-Nungnung merupakan tempat suci untuk memuja kebesaran Sanghyang Widhi Wasa dalam prabhawanya sebagai Dewa Wishnu dan Dewa Brahma, maka Pura ini berstatus sebagai Pura Kahyangan Jagat yaitu Pura umum tempat pemujaan bagi seluruh umat Hindu, walaupun keberadaannya tidak sepopuler Kahyangan Jagat lainnya di pulau Bali dan mudah-mudahan dengan diterbitkan hal ikhwal yang menyangkut keberadaan Pura ini umat sedharma semakin mengenal Pura Luhur Pucak Gegelang dan tergugah hatinya untuk pedek tangkil ngaturang pangubhakti terutama pada saat pujawali atau pada hari rerahinan yang lainnya.