Pura Geriya Tanah Kilap - Gelogor Carik - Denpasar
 
1 Pelinggih Betara Siwa
2 Pelinggih Betara Buda
3 ?
4 Linggih Ratu Samar Bagus
5 Linggih Ratu Gede Dalem Peed Nusa Penida
6 Pelinggih Ratu Betari Lingsir
7 Pesamuan Betara-betari
8 Linggih Ratu Gede Taru Agung
Sareng Ratu Mas Manik
9 Pelinggih Ratu Betara Segara
10 Pelinggih Ratu Tri Sakti
11 Pelinggih Ratu Betari Mas Melanting
12 Bale
13 Bale Pawedan
14 Pelinggih Penyampuh Segara
15 Bale Kulkul
16 Bale Perantenan
17 Linggih Betari Dewi Gangga
18

Linggih Dang Hyang Sakti Wawu Rauh

19 Kori Agung
20 Taru Bingin
21 Taru ?
22 Pemedalan
T Genah Tirta
 
Pura Geriya Tanah Kilap - Gelogor Carik - Denpasar
Sejarah Pura versi Bali Post

Kini tersebutlah Danghyang Nirartha, seorang pendeta utama datang ke tanah Bali pada tahun Saka 1411 bersama istri dan putra-putranya, yakni: (1) Ida Ayu Swabawa, (2) Ida Kuluwan, (3) Ida Lor, (4) Ida Wetan, (5) Ida Rai Istri, (6) Ida Tlaga, (7) Ida Nyoman Kaniten. Adapun Danghyang Nirartha menaiki waluh kele / waluh pahit, istri dan putra-putranya menaiki perahu bocor. Karena kesaktiannya segera sampai di Bali, istirahat di bawah pohon ancak. Kemudian didirikan parhyangan bernama Pura Ancak. Ada bisama/ putusannya kepada keturunannya, tidak boleh makan waluh selama-lamanya.

Dikisahkan, perjalanan Danghyang Nirartha ke arah timur, tiba-tiba bertemu dengan seekor naga yang mengangakan mulutnya bagaikan goa. Masuklah beliau, ke mulut naga, dan di dalam ditemuinya telaga berisi bunga tunjung sedang mekar di dalamnya, ada yang putih, merah dan hitam. Lalu dipetik bunga-bunga itu.

Ketika beliau keluar dari perut naga, sirnalah naga itu, wajah Danghyang Nirartha berubah-ubah dan menyeramkan, terkadang merah, hitam, dan putih silih berganti. Itu sebabnya pucat istri dan para putranya melihat sang rsi. Kemudian terlihat istrinya Sri Patni Kiniten demikian juga putra-putranya. Tetapi Ida Ayu Swabawa terlihat paling akhir dalam keadaan pingsan, karena diperdaya oleh orang desa di Pagametan. Lalu marah sang Rsi seraya mengutuk orang Desa Pagametan menjadi wong samar bernama wong Sumedang berikut desanya disirnakan. Demikian kisahnya.

Adapun Ida Ayu Swabawa sirna sebagai dewa wong Sumedang, berstana di Pura Melanting disembah sebagai Dewi Pasar. Ibunda beliau Sri Patni Kaniten sirna di Pulaki menjadi Batari Dalem Pulaki. Demikian juga putrinya yang bernama Ida Rai Istri, ketika mengikuti perjalanan Danghyang Nirartha, lalu sirna di Alas Sepi bernama Suwung, disembah di Pura Griya Tanah Kilap, Desa Suwung Badung, bergelar Batari Lingsir atau Betari Ratu Niyang Sakti.

Catatan babadbali.com

Legenda di atas nampaknya perlu dikupas lagi apabila kita percaya adanya makna di baliknya. Naga yang ditemui Danghyang itu sebenarnya adalah kondisi spiritualisme masyarakat Bali pada saat itu, di mana beliau merelakan diri untuk masuk ke mulut naga itu, seakan pasrah untuk ditelan bulat-bulat. Di dalam mulut naga itu, beliau menemukan tiga aliran agama yang besar, yang disimbolkan oleh tiga warna bunga teratai yang dipetiknya. Beliau memetik dan mendalami ketiga ajaran utama itu hingga nampak sedemikian asing dan aneh bagi para keluarganya. Memang pengorbanan beliau tidak tanggung-tanggung, namun hasilnya seperti kita lihat sekarang. Masyarakat Bali dapat menyatu dalam keserasian pemujaan dan bakti karena arsitek spiritual seperti Danghyang Nirarta yang kita muliakan.

Sejarah Pura versi babadbali.com
Setelah Ida Istri Sri Padmi Keniten yang hamil tua terpaksa ditinggalkan sementara di Gading Wani... (dilanjutkan lain waktu)